BKKBN: 1.000 hari sejak awal kehamilan masa krusial mencegah stunting

id Kepala BKKBN ,Cegah Stunting ,Stunting ,Kabupaten Sleman ,Sleman ,Angka Stunting Sleman

BKKBN: 1.000 hari sejak awal kehamilan masa krusial mencegah stunting

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo pada Smart Sharing bertajuk "Program Kerja sama Penurunan Angka Stunting di Indonesiaā€¯ di Kantor Kecamatan Godean, Sleman. Foto Antara/HO-Humas Pemkab Sleman

Sleman (ANTARA) - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo menyebutkan bahwa 1.000 hari pertama sejak awal kehamilan adalah masa-masa krusial untuk mencegah terjadinya stunting.

"Pada masa-masa itu, ibu hamil harus rutin mengonsumsi makanan mengandung gizi dan selalu berkonsultasi dengan dokter," kata Hasto Wardoyo pada Smart Sharing bertajuk "Program Kerja sama Penurunan Angka Stunting di Indonesia” di Kantor Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, DIY, Senin.

Acara ini merupakan kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Lebih lanjut Hasto menyebutkan bahwa bayi yang sehat ketika dilahirkan memiliki panjang kurang lebih 48 sentimeter dan berat 2,5 kilogram.

"Bayi stunting akan memiliki ciri fisik yang lebih pendek, intelektualnya juga kurang berkembang, serta akan mudah sakit ketika usia 40 tahun ke atas," katanya.

Kepala Dinas P3AP2KB Kabupaten Sleman Mafilindati Nuraini mengatakan guna mencapai tumbuh kembang yang optimal bagi anak, maka setidaknya dibutuhkan tiga hal. Pertama, pemberian gizi yang cukup dan seimbang.

"Kemudian kedua, orang dewasa yang senantiasa mencurahkan kasih sayang, perhatian, perlindungan dan jaminan keamanan. Ketiga, adanya kesempatan serta lingkungan yang mendukung untuk mengembangkan keterampilan sensorik dan motorik anak," katanya.

Mafilinda mengatakan angka stunting di Kabupaten Sleman dalam tiga tahun terakhir mengalami perbaikan. Faktor pendorong keberhasilan pencapaian ini, salah satunya karena tersedianya regulasi Perbup Nomor 38 tahun 2015 tentang Inisiasi Menyusui Dini dan Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif.

"Selain itu juga adanya Perbup Nomor 27 tahun 2019 tentang Program Percepatan Penanggulangan Balita Stunting. Beberapa inovasi untuk mencegah bayi mengalami stunting," katanya.

Ia mengatakan, program percepatan penanggulangan stunting tersebut, mulai dari Gerakan Tanggulangi Anemia Remaja dan Thalasemia (Getar Thala), Pelayanan Antenatal Care Terpadu Menuju Triple Eliminasi Menuju Semua Layanan (Pandu Teman), Pecah Ranting (Pencegahan Pada Rawan Stunting) dan Gambang Stunting (Gerakan Ajak Menimbang Cegah dan Atasi Stunting).

"Kabupaten Sleman juga menggalakkan adanya konselor ASI dan motivator Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) terlatih di 25 puskesmas dan beberapa rumah sakit. Untuk menekan angka stunting, jumlah kader kesehatan juga terus ditingkatkan, sehingga bisa mencukupi dan terlatih dalam melakukan pemantauan pertumbuhan dan membantu pelaksanaan kegiatan," katanya.

Pada acara tersebut juga dilakukan penyerahan bantuan makanan bergizi dan APD bagi keluarga risiko stunting, dan penyerahan dukungan kampanye/KIE penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja.

Usai melakukan smart sharing, Kepala BKKBN RI beserta rombongan juga menghadiri kegiatan sosialisasi advokasi dan Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) di Resto and Resort Westlake.

Kegiatan sosialisasi tersebut juga melibatkan generasi muda yang terhimpun dalam sejumlah organisasi kepemudaan di wilayah Kabupaten Sleman.
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar