Pengembangan Food estate Yogyakarta dioptimalkan penanganan stunting hingga wisata

id Food estate,yogyakarta,Pertanian,wisata,stunting

Pengembangan Food estate Yogyakarta dioptimalkan penanganan stunting hingga wisata

Dokumentasi- Kampung Markisa di Blunyahrejo Karangwaru Yogyakarta sebagai lumbung pangan Mataram, 4 Agustus 2020 (Eka AR)

Yogyakarta (ANTARA) - Pengembangan fungsi “food estate” di Kota Yogyakarta terus dioptimalkan, tidak hanya untuk pemenuhan ketahanan pangan sebagai fungsi utama tetapi juga untuk mendukung upaya penanganan stunting bahkan dikembangkan untuk kegiatan pariwisata.



“Optimalisasi fungsi lumbung pangan ini dilakukan karena memang dimungkinkan untuk mengembangkan pemanfaatan lain dari food estate. Tidak hanya untuk pemenuhan pangan tetapi juga ada fungsi lain yang bisa dimanfaatkan,” kata Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta Imam Nurwahid di Yogyakarta, Senin.



Di Kota Yogyakarta, lanjut Imam, program food estate tidak bisa dilakukan seperti di daerah lain yang memiliki lahan luas tetapi dilakukan dengan kearifan lokal dan modifikasi sesuai dengan kondisi di kota tersebut.



 



Menurut Imam, ruh dari program food estate di Kota Yogyakarta sebenarnya sudah dilakukan melalui kegiatan Karang Kitri yang meliputi usaha budi daya pertanian dan palawija yang menghasilkan sumber karbohidrat dan sayuran yang kemudian diintegrasikan dengan budi daya ikan dan ternak sebagai sumber protein.



“Di masyarakat kemudian berkembang kampung sayur yang memanfaatkan lorong-lorong untuk menanam sumber pangan sayuran di pekarangan atau di lorong kampung,” katanya.



 



Pada 2019, terdapat 93 kampung sayur dan 32 lorong sayur. Jumlah tersebut berkembang menjadi 111 kampung sayur dan 52 lorong sayur pada 2020.



Selain itu juga dilakukan program Lumbung Pangan Mataram  dalam sebuah kawasan lebih luas di wilayah. Di Kota Yogyakarta terdapat enam kelurahan yang menjadi Lumbung Pangan Mataram yaitu Kelurahan Suryodiningratan, Kricak, Kadipaten, Bausasran, Purbayan, dan Karangwaru.



Tanaman hingga ikan dan ternak yang diproduksi dari kampung sayur, lorong sayur atau lumbung pangan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pemenuhan pangan yang bergizi.



“Lumbung pangan dan kampung sayur tersebut menghasilkan produk makanan yang memenuhi kebutuhan karbohidrat, sayuran, dan protein yang berimbang yang bisa dimanfaatkan masyarakat di wilayah itu,” katanya.



Hingga saat ini, lanjut Imam, seluruh kampung sayur, lorong sayur, dan lumbung pangan di Yogyakarta mampu berproduksi dan menanam produk dengan rutin.



untuk wisata, lanjut Imam, sudah mulai dikembangkan di beberapa lokasi Lumbung Pangan Mataram yaitu Purba Asri yang berada di Kelurahan Purbayan Kotagede.



Di lokasi tersebut bahkan terdapat artefak berupa bangunan Jawa kuno yang masih asli dan terpelihara saat ini yang kemudian dikembangkan menjadi Kopi Lumbung Mataram. Bahkan di lokasi tersebut juga dipertahankan tanaman jati yang daunnya digunakan untuk bungkus atau sajian Sego Lumbung Mataram.



Begitu pula di Lumbung Pangan Mataram Markisa yang berada di Kelurahan Karangwaru Tegalrejo. Di lokasi tersebut dikembangkan pondok makan yang dikelola pelaku UKM wilayah untuk menikmati suasana Sungai Buntung.



“Banyak yang kegiatan budaya yang menarik yang bisa disinergikan dengan keberadaan Lumbung Pangan Mataram hingga kampung sayur,” katanya.



 



Meskipun demikian, lanjut Imam, fokus pada kegiatan pertanian tetap harus diutamakan sedangkan fungsi lain untuk mendukung pemenuhan gizi hingga pariwisata akan berkembang dengan sendirinya saat gerakan tersebut eksis dan dilakukan secara konsisten.

Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar