Yogyakarta latih calon aktivis perlindungan anak terpadu berbasis masyarakat

id perlindungan anak

Dokumen. Kampanye Bersama Lindungi Anakl. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/17.

Yogyakarta (Antaranews Jogja) - Pelaksanaan program Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat terus digencarkan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta, salah satunya dengan memberikan pelatihan terhadap calon aktivis program agar memiliki komitmen kuat.
   
“Aktivis atau penggerak program Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) berasal dari berbagai unsur di antaranya, kader PKK, Babinsa, Babimkamtibmas, LPMK, Karangtaruna, Satgas Sigrak dan aparat kelurahan,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Yogyakarta Octo Noor Arafat di Yogyakarta, Senin.
   
Dari pelatihan yang diikuti 19 kelurahan, diharapkan seluruh calon aktivis memiliki pemahaman yang sama terkait konsep program dan pengembangannya di masyarakat, serta meningkatkan kemampuan aktivis atau penggerak program untuk melakukan intervensi dan penanganan kasus untuk memberikan perlindungan maksimal terhadap anak.
   
Di Kota Yogyakarta, angka kekerasan terhadap anak usia 0-17 tahun dalam empat tahun terakhir justru mengalami penurunan yaitu dari 142 kasus pada 2014 menjadi 86 kasus pada 2015, 88 kasus pada 2016 dan turun menjadi 58 kasus pada 2017.
   
Meskipun angka kekerasan terhadap anak usia 0-17 tahun cenderung turun, namun Octo mengatakan, sejumlah program untuk meningkatkan perlindungan terhadap anak tetap harus digencarkan.
   
“Harapan kami, melalui program PATBM tersebut angka kekerasan terhadap anak turun dan terjadi peningkatan terhadap praktik budaya baik yang ada di lingkungan sekitar kita,” katanya. 
   
Dari pelaksanaan program sejak 2017, Octo memahami jika PATBM tidak selamanya dapat dijalankan dengan lancar karena ada beberapa tantangan yang harus dihadapi seperti, minimnya sumber daya manusia yang potensial untuk mengembangkan PATBM padahal permasalahan yang dihadapi anak sangat beragam serta minimnya dukungan anggaran untuk pelaksanaan program.
   
Di Kota Yogyakarta, program PATBM diawali dari Kelurahan Brontokusuman. Latar belakang pemilihan kelurahan tersebut karena adanya berbagai permasalahan anak di Kelurahan Brontokusuman namun masyarakat memiliki potensi untuk melakukan pencegahan.
   
Dinas Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Yogyakarta menargetkan ada 20 kelurahan yang sudah menjalankan PATBM hingga akhir 2018.
   
Penggerak PATBM Kelurahan Brontokusuman Suharjo mengatakan, dukungan dana untuk penyelenggaraan program memang minim, namun pengelola program berusaha untuk membangun jejaring dengan berbagai pihak seperti Karang Taruna, PKK, LPMK, posyandu agar program perlindungan anak bisa berjalan sinergis.
   
Sementara itu, Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi mengatakan, permasalahan dan tantangan yang dihadapi oleh anak-anak pada zaman sekarang semakin kompleks. “Mudahnya anak-anak memperoleh informasi menjadi hal yang baik namun juga ada tantangan dibaliknya,” katanya.
   
Oleh karena itu, Heroe mengingatkan bahwa keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter anak dalam masa tumbuh kembang mereka. “Anak-anak perlu tumbuh dan berkembang sesuai dengan nilai-nilai keluarga dan masyarakat,” katanya.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar