Bisnis kerajinan perak di Kotagede Yogyakarta masih lesu

id Perak,Kotagede

Pengrajin perak Kotagede (Foto: jogja.antaranews.com)

     Yogyakarta (Antaranews Jogja) - Bisnis kerajinan perak di Kotagede, Kota Yogyakarta sejak beberapa tahun terakhir hingga saat ini masih lesu karena rendahnya permintaan.
     "Beberapa tahun belakangan ini penjualan menurun sangat drastis, bisa sampai 75 persen," kata Yuli, pemilik toko Dewi Silver di Kotagede, Yogyakarta, Jumat.
      Menurut Yuli, penurunan ini disebabkan oleh sepinya permintaan dari pembeli serta banyaknya produk impor yang bebas masuk ke pasar Indonesia.
       Dengan kondisi penjualan yang masi lesu, Ia mengaku hingga saat ini hanya memproduksi kerajinan perak rata-rata 20 hingga 35 gram per minggu.
        Ia juga tidak berani memproduksi kerajinan perak terlalu banyak karena stok yang belum laku terjual di tokonya masih banyak.
       "Sehari bisa tidak memproduksi sama sekali. Ya kira-kira dalam seminggu memproduksi 20 sampai 35 gram saja," kata dia.
         Untuk menekan biaya produksi, bahkan ia mengaku tidak  mempekerjakan karyawan demi menekan biaya produksi.
        "Sekarang tidak ada karyawan, hanya memanggil perajin kalau ada permintaan saja," kata dia.
       Meski demikian, Yuli mengaku tetap berupaya mendongkrak penjualan dagangannya bekerja sama dengan pemandu wisata, pelaku usaha perhotelan, serta para pengemudi taksi.
        Sementara itu, Purwanto, pemilik toko YK Gold &Silver di Kotagede mengaku mengalami kondisi   yang sama dan meneluhkan masih rendahnya penjualan kerajinan perak. Menurutnya, penurunan penjualan ia alami sejak 2016.
      Selain banyaknya produk Impor, Purwanto menilai sepinya permintaan itu juga dipicu oleh keberadaan sistem penjualan secara daring.
       Di sisi lain, menurut dia, perhatian pemerintah terhadap pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya perajin perak hingga kini masih minim.  "Kekuatan UMKM tidak pernah diperhatikan oleh pemerintah," kata dia.
      Purwanto berharap pemerintah mampu membatasi produk impor dan lebih memperhatikan pelaku UMKM.
 
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar