180 fasilitator dilatih pembelajaran berfokus generasi penulis-penemu

id fasilitator,pembelajaran,tanoto foundation

180 fasilitator dilatih pembelajaran berfokus generasi penulis-penemu

Praktikan sedang membuktikan kandungan vitamin C dengan menggunakan alat-alat sederhana. Cara ini akan diajarkan di kelas (HO-Tanoto Foundation)

Yogyakarta (ANTARA) - Tanoto Foundation melatih 180 orang fasilitator dari Jawa Tengah dan Kalimantan Timur terdiri atas unsur dosen LPTK, guru, dan kepala sekolah mitra Program Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran (Pintar) yang berfokus pada kekhasan karakter mata pelajaran dan bertujuan menghasilkan generasi penulis dan penemu, di Yogyakarta, 11-14 September 2019.

"Pada Modul I kita fokus pada kemampuan metodologi dalam pembelajaran. Namun di Modul II kita akan dorong supaya banyak produk pembelajaran yang mengarah pada karya-karya tulis dan penemu sesuai dengan karakter mata pelajarannya," kata Wakil Direktur Program Pintar Tanoto Foundation M Ari Widowati di sela pelatihan.

Menurut Ari, Modul II ini akan dilatihkan kepada 448 fasilitator daerah yang tersebar di lima provinsi, yaitu Sumatera Utara, Riau, Jambi, Jawa Tengah, dan Kalimantan Timur. Para fasilitator daerah tersebut akan melatih kembali dan mendampingi 440 sekolah dan madrasah mitra.

Wakil Direktur Program Pintar sekaligus Ketua Yayasan Bhakti Tanoto ini juga menyebutkan bahwa Program Pintar berfokus pada peningkatan numerasi, literasi, dan sains.

“Saat ini kami telah menjangkau 1.465 sekolah dan madrasah, 9.647 kepala sekolah, guru, pengawas, dan komite sekolah, serta telah memberi manfaat untuk 398.000 siswa. Kami berharap guru serta kepala sekolah yang dilatih dapat memberikan pembelajaran berkualitas yang membuat siswa mengembangkan potensi terbaiknya untuk meningkatkan kesetaraan peluang," kata Ari.

Menurut Kepala Pelatihan Sekolah dan Guru Program Pintar Tanoto Foundation Ujang Sukandi, setiap mata pelajaran (mapel) memiliki karakter keterampilan dan proses tersendiri yang perlu dilatihkan secara berkelanjutan kepada siswa. Dalam Modul II, guru akan dilatih mengajar yang sesuai kekhasan karakter mapel.

Misalnya, dalam pembelajaran matematika yang berciri melatihkan siswa keterampilan matematika seperti penalaran, pembuktian, representasi, koneksi, komunikasi dan proses: penyelidikan, penemuan, dan pemecahan masalah.

"Jadi dalam belajar matematika, siswa  tidak hanya diberikan rumus, tetapi kita akan mendorong dan memfasilitasi siswa untuk menemukan rumus tersebut. Mapel yang dikembangkan dalam Modul II Program Pintar adalah matematika, IPA, Bahasa Indonesia, IPS, Bahasa Inggris, dan Literasi Kelas Awal," katanya.

Menurut dia, pembelajaran yang mengembangkan karakter mapel tersebut dapat mengembangkan potensi anak, yaitu rasa ingin tahu dan berimajinasi di mana kedua hal tersebut merupakan dasar bagi kreativitas.

Dalam pembelajaran IPS, guru dilatih mengembangkan keterampilan IPS dan sikap sosial siswa. Keterampilan IPS yang dimaksud adalah keterampilan berpikir kritis, mengolah informasi, berperan dalam kelompok, dan mampu mengkonstruksi pengetahuan baru. Sikap sosialnya seperti peduli, jujur, santun, dan bertanggung jawab.

Sementara pada pembelajaran IPA, kekhasannya ada pada menemukan jawaban dari persoalan dengan cara metode ilmiah.

Dosen Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang juga tim penyusun Modul II Program Pintar Woro Sri Hastuti mengatakan ketika siswa belajar perpindahan panas, tidak cukup hanya dijelaskan secara teori dan atau menghitung rumus. Siswa perlu difasilitasi untuk membuat alat sederhana penahan panas.

"Misalnya, siswa ditugasi membuat botol yang bisa membuat air panas terjaga panasnya. Mereka akan bereksprimen membuat wadah penahan panas dari berbagai bahan seperti alumunium foil, koran bekas, kain bekas, atau kardus bekas, untuk menemukan bahan yang paling bagus menjaga air tetap panas. Mereka akan belajar penerapan konsep perpindahan panas dalam kehidupan sehari-hari," katanya.

Pada Modul II juga dikembangkan materi pelatihan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang berfokus pada transparansi dan akuntabilitas manajemen sekolah, supervisi pembelajaran, dan pengelolaan budaya baca.

Selama 3 hari (11-14/9) peserta juga difasilitasi untuk mengkaji hasil penerapan Modul I Program Pintar, terutama untuk mengetahui hal-hal yang sudah baik dan yang perlu ditingkatkan dalam penerapan pembelajaran aktif, MBS, dan budaya baca.
 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar