Disperindag Kota Yogyakarta sosialisasikan kesadaran penggunaan elpiji bersubsidi

id Elpiji,bersubsidi,tiga kilogram,hotel

Disperindag Kota Yogyakarta sosialisasikan kesadaran penggunaan elpiji bersubsidi

Elpiji bersubsidi 3 kilogram. (Foto Antaranews/Dok)

Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Yogyakarta terus menggencarkan sosialisasi terkait kesadaran penggunaan elpiji tiga kilogram atau elpiji bersubsidi kepada usaha perhotelan agar tidak lagi menggunakan elpiji jenis tersebut.

“Upaya sosialisasi ini yang terus digencarkan bersama Hiswana Migas dan Pertamina agar usaha perhotelan memiliki pemahaman dan kesadaran untuk tidak lagi menggunakan elpiji bersubsidi,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Yogyakarta Yunianto Dwi Sutono di Yogyakarta, Selasa.

Menurut dia, dimungkinkan masih ada usaha perhotelan di Kota Yogyakarta yang menggunakan elpiji tiga kilogram dan penggunaan tersebut menyalahi ketentuan yang diatur dalam Surat Edaran Gubernur DIY Nomor 510/2018.

Surat edaran tersebut menyatakan bahwa elpiji bersubdisi tiga kilogram hanya dimanfaatkan untuk rumah tangga miskin dan usaha mikro, sedangkan restoran, usaha peternakan, pertanian, batik, binatu, usaha jasa las, usaha tembakau, dan aparatur sipil negara dilarang menggunakan elpiji bersubdisi.

“Di tabung elpiji bersubsidi pun sudah ditulis secara jelas bahwa elpiji tersebut untuk warga miskin. Kesadaran ini yang akan dibangun. Pendekatan persuasif akan lebih diutamakan,” katanya.

Yunianto berharap, usaha perhotelan yang masih menggunakan elpiji bersubdisi segera menggantinya dengan elpiji nonsubsidi atau bright gas.

“Pasokan untuk elpiji nonsubdisi sangat mencukupi sehingga tidak ada lagi alasan bagi usaha perhotelan kesulitan menjadi elpiji nonsubsidi,” katanya.

Sebelumnya, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Yogyakarta juga sudah melakukan pengawasan penggunaan elpiji bersubdisi ke usaha restoran dan rumah makan.

Rumah makan yang masih menggunakan elpiji bersubdisi langsung diminta melakukan penggantian ke bright gas ukuran 5,5 kg. “Dari pengawasan di lapangan, seluruh usaha restoran yang sempat diminta mengganti elpiji bersubsidi ke bright gas tidak kembali menggunakan elpiji bersubsidi,” kata Kepala Bidang Bimbingan Usaha Pengawasan dan Pengendalian Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Yogyakarta Benedict Cahyo Santosa.

Selain melakukan pengawasan terhadap penggunaan elpiji bersubsidi, Disperindag Kota Yogyakarta juga rutin melakukan pengawasan terhadap harga elpiji bersubsidi di tingkat agen. Di Kota Yogyakarta tercatat ada sekitar 60-70 pangkalan dengan 14 agen.

Berdasarkan pantauan, harga elpiji bersubsidi masih sesuai ketentuan dengan ketersediaan yang mencukupi. Kuota elpiji tahun ini mengalami kenaikan 452 metric ton dibanding kuota tahun lalu sebanyak 21.088 metric ton.

Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar