Mendikbud: Daerah kategori hijau-kuning boleh belajar tatap muka

id nadiem makarim,mendikbud,pemprov sulteng,MKKS,longki djanggola,pendidikan sulteng,pendidikan

Mendikbud: Daerah kategori hijau-kuning boleh belajar tatap muka

Mendikbud RI Nadiem Makarim berdialog dengan para guru dan kepala sekolah, didampingi oleh Gubernur Sulteng Longki Djanggola dan Pejabat Kemendikbud, saat Nadiem berkunjung ke Palu, Rabu (4/11/2020) ANTARA/Muhammad Hajiji

Teman-teman kita di zona kuning dan hijau, yang banyak sekali tidak punya akses terhadap internet, Kemendikbud dan empat kementerian lain langsung mengambil sikap, daerah zona hijau dan kuning pandemi COVID boleh buka tatap muka.
Palu (ANTARA) - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nadiem Makarim menyatakan daerah yang dikategorikan sebagai zona hijau dan kuning dari penyebaran COVID-19 dapat melaksanakan pembelajaran langsung dengan metode tatap muka.

"Teman-teman kita di zona kuning dan hijau, yang banyak sekali tidak punya akses terhadap internet, Kemendikbud dan empat kementerian lain langsung mengambil sikap, daerah zona hijau dan kuning pandemi COVID boleh buka tatap muka," ucap Nadiem Makarim saat dirinya berdialog dengan para guru dan kepala sekolah di Kota Palu, Rabu.

Baca juga: Pasien sembuh COVID-19 di Bantul bertambah 22 menjadi 868 orang

Karena, kata Nadiem, kebanyakan daerah yang terdampak COVID-19 yang merupakan daerah tertinggal dan terluar, namun masih dalam zona hijau dan kuning banyak yang memiliki keterbatasan, salah satunya tidak memiliki akses internet.

Sementara untuk di daerah yang berkategori sebagai zona orange dan merah, sebut Nadiem, masih belum diperkenankan untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka langsung.

Baca juga: Destinasi wisata alam favorit kunjungan wisatawan ke Sleman

Kepada para guru dan kepala sekolah dan pemerintah di Sulawesi Tengah, Nadiem mengatakan bahwa model pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang diterapkan oleh pemerintah melalui Kemendikbud pada dasarnya menjadi satu kebijakan yang tidak diinginkan oleh Kemendikbud itu sendiri.

"Tidak ada di pemerintah pusat yang menginginkan PJJ. Saya tidak menginginkan PJJ," ungkap Nadiem Makarim.

Baca juga: Bupati Sleman harapkan LPM tingkatkan budaya gotong royong

Namun hal itu diterapkan, karena jika tidak diterapkan maka penyebaran COVID-19 akan semakin cepat dan kesulitan dikendali, sehingga berdampak pada keselamatan dan kesehatan banyak orang.

"Jika kita tidak menutup sekolah di Jakarta, bisa bayangkan berapa banyak manusia yang meninggal," sebutnya.

Penerapan penutupan sekolah dengan melangsungkan metode pembelajaran jarak jauh, akui dia, menjadi suatu keterpaksaan karena situasional pandemi COVID-19 yang memperhatikan aspek kesehatan dan keselamatan.

Nadiem menginginkan agar siswa-siswi segera bisa kembali mengikuti proses belajar mengajar di sekolah tatap muka langsung. Namun, hal itu hanya bagi daerah yang berzona hijau dan kuning.

Selain itu, untuk mendukung proses dan kelancaran pembelajaran jarak jauh, ia menguraikan, Kemendibud memfasilitasi paket data yang terdiri dari kuota belajar dan kuota umum yang masing-masing 30 gigabyte dan 5 gigabyte.

Ia menerangkan, kebijakan memfasilitasi kuota data internet, karena problem utama yakni masyarakat tidak mampu membeli paket data.

"Bukan soal tidak memiliki gadget, memang ada yang tidak memiliki gadget. Tetapi mayoritas punya gadget, dan persoalan utamanya yaitu tidak mampu membeli paket data," ujarnya.

Selanjutnya, kata Nadiem, komponen siswa yang sulit mengikuti proses pembelajaran jarak jauh yang siswa sekolah dasar dan PAUD.

Maka, sebut dia, Kemendikbud menerbitkan modul pembelajaran di masa pandemi COVID-19 bagi siswa SD dan PAUD, yang tidak perlu menggunakan akses internet, melainkan dilakukan oleh orang tuanya dan dibimbing oleh guru.

"Ini adalah modul-modul darurat yang kami keluarkan untuk mereka yang ada di pelosok-pelosok yang sangat sulit akses internet. Jadi mohon agar digunakan fasilitas yang telah ada," sebutnya.
 
Mendikbud RI Nadiem Makarim didampingi oleh Gubernur Sulteng Longki berdialog dengan para guru.




 
Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar