Bantul produksi "Beras Bantul Asli" 25 ton/bulan

id Beras Bantul

Seorang pekerja sedang menata beras hasil gilinngan di tempat penggilingan. Foto Antara/Azhar Qodrat/ags/15.

Bantul (Antaranews Jogja) - Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan, dan Perikanan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, memproduksi beras kemasan dengan merek 'Beras Bantul Asli' maksimal mencapai seberat 25 ton per bulan.
    
"Kalau untuk produksinya (Beras Bantul Asli) masih stabil antara 10 ton maksimal sampai 25 ton tiap periode, yang kemudian dipasarkan," kata Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Bantul Pulung Haryadi di Bantul, Selasa.
    
Beras Bantul Asli itu merupakan terobosan baru pemerintah daerah setempat dalam mengoptimalkan pasar hasil pertanian itu, mengingat selama ini hasil panen padi para petani Bantul banyak dijual ke luar kabupaten.
    
Ia mengatakan, kini beras kemasan asli Bantul yang diluncurkan Bupati Bantul, Suharsono pada Mei 2018 tersebut sudah dikenal masyarakat luas, juga pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan pemerintah setempat.
    
"Pemasarannya tidak hanya di ASN (aparatur sipil negara), tetapi juga di pasar lokal. Dan kita akan mengelola dan mengembangkan (produksi Beras Bantul Asli) dengan koperasi yang bergerak di sektor pangan," katanya.
    
Pulung meyakini kalau bisa bekerja sama dengan lembaga pangan di desa maka produksinya akan lebih baik dan pemasarannya lebih optimal, sebab hasil panen yang melimpah bisa dikelola untuk diproduksi beras kemasan itu.
    
Menurut dia, dalam konsep pengelolaan beras petani Bantul itu pihaknya juga akan menggerakkan organisasi-organisasi petani seperti gabungan kelompok tani (gapoktan) di tiap desa dan juga kelompok tani (Poktan) tiap dusun.
    
"Intinya seperti itu, nanti yang kami gerakkan mereka, dan nanti kita `link`-kan dengan Resi Gudang, jadi setelah koperasi dan Resi Gudang jalan, gapoktan itu nanti menjadi satu `link` tersendiri, itu rencana kami," katanya.
    
Ia mengatakan, upaya mengelola beras petani Bantul agar bisa menjadi ciri khas daerah ini karena produksi beras Bantul secara hitung-hitungan mengalami surplus tiap tahun, namun diakui masih ada petani yang menjual ke luar daerah, begitu sebaliknya.
    
"Seperti beras dari Delanggu Klaten itu kan tidak semua dari Delanggu, bahkan juga dari Bantul, sehingga beras Bantul dilabeli itu bisa terjadi, dan kita tidak memungkiri hal-hal semacam itu," katanya.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar