Yogyakarta membentuk URC cek kesehatan hewan kurban

id Hewan kurban, urc, kesehatan

Yogyakarta membentuk URC cek kesehatan hewan kurban

Penjualan hewan kurban di Pasar Hewan Ambarketawang, Gamping, Kabupaten Sleman. (Foto Antara/ Victorianus Sat Pranyoto)

Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta membentuk Unit Reaksi Cepat yang siap melakukan pendampingan hingga pemeriksaan kesehatan hewan kurban.

“Masyarakat bisa menghubungi Unit Reaksi Cepat (URC) jika merasa ragu apakah hewan yang dibeli dalam kondisi sehat dan layak kurban atau tidak. Biasanya, hewan kurban yang dibeli langsung dari peternak belum diperiksa kesehatannya,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta Sugeng Darmanto di Yogyakarta, Jumat.

Menurut dia, petugas kesehatan hewan yang tergabung dalam URC tersebut akan datang langsung ke warga untuk melakukan pemeriksaan kesehatan dan memberikan obat jika hewan kurban tersebut mengalami sakit mendadak.

“Jika belum sempat datang, maka petugas bisa memberikan pendampingan atau saran mengenai perawatan hewan kurban. Misalnya memberikan air minum atau pakan yang baik dan cukup serta memisahkan hewan dari hewan lain agar tidak menularkan penyakit,” katanya.

Selain membentuk URC, Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta juga akan menerjunkan petugas untuk melakukan pemantauan kesehatan hewan kurban di pasar-pasar tiban yang ada di Kota Yogyakarta. Diperkirakan, jumlah pasar tiban hewan kurban mencapai sekitar 64 titik sesuai jumlah tahun sebelumnya.

Pemantauan kondisi kesehatan hewan kurban di pasar tiban akan dilakukan sekitar dua pekan menjelang Idul Adha. Hewan kurban yang dinyatakan sehat dan layak akan diberi kalung sehingga memudahkan konsumen untuk memperoleh hewan kurban yang baik.

Pada musim kemarau seperti saat ini, sejumlah penyakit yang diperkirakan mudah menyerang hewan kurban di antaranya mata merah dan berair dan diare. “Hewan yang sakit akan diberi obat. Biasanya, sembuh dalam beberapa hari dan masih layak untuk menjadi hewan kurban,” katanya.

Ia pun menyarangkan agar pedagang memperhatikan kesejahteraan hewan yang dijual dengan memperhatikan luas kandang. Setidaknya, satu hewan kurban seperti kambing memperoleh luas sekitar satu meter persegi.

“Penutup kandang pun harus ada. Makanan dan minuman dalam kondisi baik dan cukup, serta selalu memperhatikan kebersihan kandang. Jangan berjualan tepat di atas trotoar,” katanya.

Selain di pasar tiban, pemeriksaan kesehatan juga akan dilakukan pada H-1 Idul Adha untuk ante mortem dan pada saat sudah disembelih atau post mortem. “Kami sudah ajukan kebutuhan tambahan tenaga pemeriksa ke Fakultas Kedokteran Hewan UGM. Harapannya, ada tambahan 125 personel,” katanya.

Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar