Harga minyak melonjak

id harga minyak,minyak berjangka,minyak Brent,minyak WTI,krisis energi,pasokan ketat,pasokan OPEC+

Harga minyak melonjak

Ilustrasi - Labirin pipa dan katup minyak mentah yang digambarkan selama tur oleh Departemen Energi di Cadangan Minyak Strategis di Freeport, Texas, AS, Kamis (9/6/2016). ANTARA/REUTERS/Richard Carson/am.

New York (ANTARA) - Minyak menguat pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB) dan mendekati level tertinggi multi-tahun karena krisis pasokan energi berlanjut di seluruh dunia, sementara penurunan suhu di China menghidupkan kembali kekhawatiran tentang apakah konsumen energi terbesar dunia itu dapat memenuhi kebutuhan pemanas domestiknya.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Desember terangkat 75 sen menjadi menetap di 85,08 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman November bertambah 52 sen menjadi ditutup di 82,96 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Harga telah naik dalam dua bulan terakhir. Sejak awal September, Brent telah melonjak sekitar 19 persen, sementara WTI telah melonjak sekitar 21 persen.

Kedua patokan minyak mentah itu mendekati level tertinggi multi-tahun mereka karena pasar minyak diperkirakan akan tetap ketat untuk saat ini.

OPEC dan Badan Energi Internasional (IEA) dalam laporan bulanan masing-masing pekan lalu melihat pasar minyak secara nyata kekurangan pasokan dalam jangka pendek.

"Kebijakan produksi terbatas yang dilakukan oleh OPEC+ sebagian bertanggung jawab. Peningkatan produksi yang disepakati sebesar 400.000 barel per hari setiap bulan tidak akan cukup karena segala sesuatunya saat ini berdiri untuk menutup kesenjangan antara permintaan dan pasokan," Carsten Fritsch, analis energi di Commerzbank Research mengatakan pada Selasa (19/10/2021) dalam sebuah catatan.

"Neraca permintaan-penawaran menunjukkan bahwa pasar mengalami defisit pasokan, yang mendorong penarikan persediaan yang dalam dan mendorong harga-harga bergerak naik," kata Louise Dickson, analis pasar minyak senior di Rystad Energy.

"Keketatan pasar ini diperkirakan akan meluas hingga sebagian besar tahun 2022, dan permintaan minyak mentah hanya akan mengejar pasokan minyak mentah pada kuartal keempat tahun depan."

Dengan penurunan suhu saat musim dingin di belahan bumi utara mendekat dan permintaan pemanasan meningkat, harga minyak, batu bara, dan gas alam kemungkinan akan tetap tinggi, kata para pedagang dan analis.

Cuaca yang lebih dingin sudah mulai mencengkeram China, dengan perkiraan suhu mendekati titik beku untuk wilayah utara, menurut AccuWeather.com.

Kenaikan harga batu bara dan gas alam di Asia diperkirakan akan menyebabkan beberapa pengguna akhir beralih ke minyak yang lebih murah sebagai alternatif.

Namun, krisis listrik yang mengirim harga lebih tinggi juga menghambat pertumbuhan ekonomi China, yang turun ke level terendah dalam setahun, data resmi menunjukkan pada Senin (18/10/2021).

Tingkat pemrosesan minyak mentah harian China juga turun bulan lalu, jatuh ke level terendah sejak Mei tahun lalu.

Di Brazil, perusahaan minyak milik negara Petrobras menegaskan tidak akan dapat memenuhi "permintaan atipikal" dari distributor bahan bakar pada November yang telah melampaui kapasitas produksinya, meningkatkan kekhawatiran kekurangan pasokan di negara itu.

Di Amerika Serikat, stok minyak mentah naik sementara persediaan bensin dan sulingan turun pekan lalu, menurut sumber pasar yang mengutip angka American Petroleum Institute (API) pada Selasa (19/10/2021).

Stok minyak mentah naik 3,3 juta barel untuk pekan yang berakhir 15 Oktober. Persediaan bensin turun 3,5 juta barel dan stok sulingan turun 3 juta barel, data menunjukkan, menurut sumber, yang berbicara dengan syarat anonim.

Para pedagang sekarang sedang menunggu data stok minyak mentah AS karena Badan Informasi Energi AS (EIA) akan merilis laporan status minyak mingguannya pada Rabu waktu setempat.


 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021